puisi sastrawan lama: Kabut, karya M. Taslim Ali, Sastrawan Balai Pustaka
Hai, teman-teman. Bagaimana keadaan Anda sekalian hari ini? Semoga
senantiasa dalam perlindungan-Nya ya… Sebagaimana keadaan saya hari ini, dalam
kondisi yang pantas untuk selalu disyukuri.
Kali ini saya, ingin membagi puisi yang say baca untuk mengisi waktu
setelah sejak dini hari beraktifitas. Salah satu puisi yang saya begitu
berminat membacanya, puisi karya sastrawan lama.
Kisah hari ini adalah saat membuka-buka dan menata arsip buku-buku saya,
tanpa sengaja mata ini tertuju pada secarik kertas putih usang bertuliskan
syair lama. Untuk itu, tidak ada salahnya kan kalua saya membaginya dengan
teman-teman pegiat puisi lama, khususnya sastrawan balai pustaka?
Puisi yang saya maksud adalah karya M. Tamsil Ali berjudul “Kabut”.Siapa
yang tidak kenal beliauu? Tentunya semua sudah kenal, bukan? Saya berharap,
kabut kan bersambut dengan keceriaan. Secerah cahaya mentari siang ini. Selamat
membaca.
Salam,
KABUT
Karya: M. Tamsil Ali
Kabut di lembah ini
Merangkak ke lereng
gunung,
Datang angin pagi…
Dipacunya … lalu…
Anak manusia,
Niatnya, baju dan rambut;
Anak manusia,
Niatnya, baju dan rambut;
Kabut di lembah ini
Ia pelan mendaki
Tongkat berdebu di tangan
Tujuan: Tapa di puncak
gunung
Hatinya: Dendang Harapan
Dapat Kunci resia Wujud
Angin ujian singgah.
Merdu cumbu panca indra
Hatinya: Langkah
tergantung
Niatnya: … mungkin
Kabut dipacu angin
(Mei 1948)
Ditulis kembali pada tanggal 25 Desember 2015
bravooo
BalasHapus