Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2015

Sajak Sang Gadis

Gambar
Assalaamu'alaikum,   Rekan-rekan yang saya sayangi, berikut saya sajikan sajak/ puisi yang terlahir dari buah fikir seorang pemula. Saya, Dwi Pujianingtyas Prabaningrum mencoba mengungkapkan perasaan dan pengalaman melalui untaian kata. Semoga rekan semua berkenan untuk memberikan tanggapan, kritik, dan saran kepada saya. Kebetulan yang satu ini belum ada judul. Boleh ya ada usul seputar judul yang pas? Rekomendasikan ya... :-) Panorama Subuh Sebagaimana kejora yang mulai menampakkan raut wajahnya di kaki -langit timur, Sinar lembutnya melengkapi panorama subuh nan teduh, Perpisahan gulita telah meneguh, Bersambut senyum ramah pagi di dedaunan  rimbun, Menggantung padanya butiran embun, Jelita menjelma penuh pesona, Mengurai harap sepenuh jiwa, Di bawah lembut belaian sang ratu cahya, Menabur sejuta mimpi tuk jadikan nyata, Bukan sekadar asa yang tergantung pada dirgantara, terlebih -mayapada. Kini… kejora dan kau membuka percaka...
Gambar
  Desember Tibalah waktu di gapura penghujung Desember. Dua ribu lima belas hampir berlalu. Kuharap kali ini Desember kelabu sudah ketinggalan zaman. Lalu, apa salahnya bila kunobatkan sebagai Desember ceria? Sama halnya September yang hadirnya kini kurindukan. Seperti senja dikala itu.                   Meja kerja, NHEC, Bungur Salam hangat,  (Dwi P. Prabaningrum)  

A Trip to the Beach_Diary Hati Prabaningrum

Gambar
Good morning my friends, Wish you all be happy today. In this occasion, I will  tell you about my and my friends' experience several years ago. I write it because I miss the beach named Pidakan beach enough. Hopefully it will be useful for you all, especially who like recount text.  written by: Diary Hati Prabaningrum (diaryhatiprabaningrum.blogspot.com) A Trip to the Beach Several years ago, my friends and I felt bored because of the job. Therefore, we decided to go to the beach near my friend’s home. Fortunately, there were two foreign tourists who came from US visited our school. Then, they agreed with us to have a trip to “Pidakan” beach. It needed more than thirty five minutes to get there. When we arrived at the beach, we were glad to see the scenery .  Zack and Arthur, both of Americans having a quick dip in the ocean while joking. I and my friends had no any courage to do the same, so that we just looked around the beach at that time. The sc...

Cinta vs Rindu, Laki vs Wanita testimonial (diary hati prabaningrum)

Gambar
Hai, friends, boleh  ya kasih saran … Manakah yang lebih tepat menurutmu? Menurut aku nih ya. Perumpamaan purnama ialah hak untuk para wanita, sementara mentari ialah hak para lelaki. Lalu , bagaimana dengan cinta dan rindu?  Bilamana terlontar dari bibir seorang gadis, manakah yang lebih pas? “Jika cinta adalah aku maka kaulah rindu yang kutunggu” atau “Jika rindu ialah aku maka kaulah cinta yang kunanti”. Jangan lupa tinggalkan komentar ya... Thanks a lot. Pacitan, 29 Desember 2015 Salam, D. P. Prabaningrum (DPP)

puisi: Sajak Putih-Chairil Anwar-diaryhatiprabaningrum

Dwi Pujianingtyas Prabaningrum 21 hrs  ·  Damai hati teriring merdu alunan sajak buah karya idolaku. Aku begitu suka dengan intonasi khas pembacaan puisi karya sastrawan angkatan kemerdekaan, angkatan 45. Menggebu, penuh semangat perjuangan, sama seperti semangatku untuk mewujudkan cita-cita. SAJAK PUTIH Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja Di hitam matamu kembang mawar dan melati Harum rambutmu mengalun bergelut senda Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba Meriak muka air kolam jiwa Dan dalam dadaku memerdu lagu Menarik menari seluruh aku Hidup dari hidupku, pintu terbuka Selama matamu bagiku menengadah Selama kau darah mengalir dari luka Antara kita Mati datang tidak membelah... Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri, dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini! Kucuplah aku terus, kucuplah dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku… Karya : Chairil Anwar ...

puisi: Aku dan Debu-M. Tamsil Ali by Diary Hati Prabaningrum

Puisi Sastrawan Angkatan Balai Pustaka diaryhatiprabaningrum.blogspot.com Puisi karya M. Taslim Ali yang Dwi P. Prabaningrum baca ulang dan ulang pada hari ini. AKU DAN DEBU Karya: M. TASLIM ALI Aku jelajahi kota ini Simpang siur jalannya Tampak tangis darah dan daging Mengeluh jatuh ke debu Bertemu debu dan debu Aku jelajah gunung dan lembah Debu ngebul dari kakiku Mulut bedil dan mortar Rahang meriam, ngebulkan debu Debu, dan debu Aku penjelajah gelap dan cahya Aku debu Seperti tangis darah dan daging Seperti debu, keluh kakiku Debu takdir, bedil dan mortir Pada akhir jalanku Kembali pada debu Dari gelap ke caya Dimana aku lupakan debu (Jakarta, 8 Mei 1948)

Aku, Kau, Hati, dan Rindu: Tentang Keluh Kesah Penulis

Gambar
Hi, Dear Friends… Ada kalanya niatan menggebu untuk terus menuturkan segala yang melintas di benak kita. Segala sesuatu yang kita alami, kita temui, dan kita harapkan terjadinya pada hari yang telah dan akan kita jalani. Akan tetapi, ada saat-saat kita terbelenggu pada diksi atau pilihan kata tertentu. Sebagaimana yang aku alami saat ini. Jujur, boleh banget kalau teman-teman tersayang bersedia memberikan cap cip cup kekata ajaib untuk merefresh nih otak…. Ditunggu ya… Cuuup bla bla… Aku, kau, hati, da n rindu. Selalu begitu Selalu, pilihanku tertuju padamu Ah... Kenapa otakku berkutat pada deretanmu? Kenapa pula jemariku begitu nafsu, masih dengan sebaris kata itu? hampir selalu

puisi sastrawan lama: Kabut, karya M. Taslim Ali, Sastrawan Balai Pustaka

Hai, teman-teman. Bagaimana keadaan Anda sekalian hari ini? Semoga senantiasa dalam perlindungan-Nya ya… Sebagaimana keadaan saya hari ini, dalam kondisi yang pantas untuk selalu disyukuri. Kali ini saya, ingin membagi puisi yang say baca untuk mengisi waktu setelah sejak dini hari beraktifitas. Salah satu puisi yang saya begitu berminat membacanya, puisi karya sastrawan lama. Kisah hari ini adalah saat membuka-buka dan menata arsip buku-buku saya, tanpa sengaja mata ini tertuju pada secarik kertas putih usang bertuliskan syair lama. Untuk itu, tidak ada salahnya kan kalua saya membaginya dengan teman-teman pegiat puisi lama, khususnya sastrawan balai pustaka? Puisi yang saya maksud adalah karya M. Tamsil Ali berjudul “Kabut”.Siapa yang tidak kenal beliauu? Tentunya semua sudah kenal, bukan? Saya berharap, kabut kan bersambut dengan keceriaan. Secerah cahaya mentari siang ini. Selamat membaca. Salam, KABUT Karya: M. Tamsil Ali Kabut di lembah ini Merangkak ke le...

puisi: Aku dan Malam- Diary hati prabaningrum

Gambar
AKU DAN MALAM Karya: Dwi Pujianingtyas Prabaningrum Harumnya semerbak menemani malamku, bersama aromanyakurangkai bait-bait puisi ini, "Aku dan Malam" Dalam keheningan Bersama sujud simpuh daku berkawan Sunyi yang meretas Malam gulita Mendekapku sepenuh jiwa Menemani diri menenggak gundah Kuraih kalamullah seraya kubuka Lembar demi lembar memapar ayat-ayat-Nya Mengundang pandang tertuju padanya Memikat hati menyelami makna Lautan malam Yang pekatnya tanpa batas, Heningnya menyeruak di dada, Dalam panjangmu kuhaturkan pinta dalam bait-bait do’a Esok kan menuai bahagia (DPP, Pacitan, 21 Juli 2015. 20.00 WIB)